Category: Sosial

Tanah Ambles di Guyon Capai 10 cm

Pergerakan tanah di Dusun Guyon, Desa Tengklik, Kecamatan Tawangmangu semakin dirasakan masyarakat sekitar. Berdasarkan pengamatan alat peringatan dini atau early warning system tanah di sekitar lokasi ambles mencapai 10 cm.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru K, mengatakan seluruh alat peringatan dini yang dipasang di lokasi rawan tanah longsor dinyalakan secara terus-menerus. Langkah ini dilakukan untuk memantau pergerakan tanah saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

“Alat peringatan dini yang berjumlah 14 unit dinyalakan selama musim penghujan,”.

Selain itu, jalur evakuasi menuju balai Desa Tengklik mengalami kemiringan sekitar 15 derajat. Artinya, pergerakan tanah bisa terjadi sewaktu-waktu apalagi saat terjadi hujan lebat selama lebih dari dua jam.

Pihaknya telah menyiapkan sukarelawan serta sarana dan prasarana untuk mengantisipasi terjadinya bencana tanah longsor. Apabila terjadi tanah longsor, maka para sukarelawan segera menuju lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi terhadap warga sekitar.

“Sukarelawan maupun sarana dan prasarana telah disiapkan, mereka akan bergerak cepat menuju lokasi jika terjadi bencana tanah longsor,” jelasnya.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim penghujan. Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi selama berjam-jam maka warga diminta segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Sementara Camat Tawangmangu, Yopi Eko Jati Wibowo, menyatakan ada beberapa titik lokasi yang rawan tanah longsor antara lain Dusun Guyon, Desa Tengklik, Dusun Mogol, Desa Ledoksari. Selama ini, pihaknya selalu berkoordinasi dengan BPBD Karanganyar untuk mengantisipasi terjadinya bencana tanah longsor.

Read More

Polres Karanganyar Gelar Seminar Hari Ini

Polres Karanganyar bakal menggelar seminar bertemakan penanganan nilai karakter untuk mencegah degradasi moral di Gedung DPRD Karanganyar pada Selasa (27/11/2012). Hal ini untuk menyikapi berbagai tindak kekerasan yang disebabkan penurunan moral bangsa Indonesia.

Kapolres Karanganyar, AKBP Nazirwan Adji Wibowo, mengatakan pihaknya prihatin atas aksi kekerasan yang terjadi terutama di wilayah Soloraya. Tak hanya itu, kasus asusila juga semakin marak terjadi di beberapa daerah. Oleh karena itu, pihaknya berinisiatif menggelar seminar untuk mencegah degradasi moral terutama generasi muda.

“Salah satu upaya untuk mencegah degradasi moral dengan melaksanakan seminar. Kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat bahu-membahu menciptakan kondisi aman,” katanya, Senin (26/11/2012).

Pelaksanaan seminar tersebut untuk menindaklanjuti deklarasi anti kekerasan dan terorisme yang dilaksanakan beberapa bulan lalu. Diharapkan para generasi muda dapat membangun karakter secara kuat untuk mengantisipasi degradasi moral.

Pihaknya mengundang seluruh elemen masyarakat di Karanganyar yang terdiri dari unsur pemuda, ormas dan tokoh masyarakat. Sementara narasumber seminar tersebut berasal dari kalangan akademis, ulama dan kepolisian. “Nanti ada kesimpulan dari seminar itu yang akan disepakati seluruh elemen masyarakat,” tambahnya.

Read More

Anggota LVRI Karanganyar Minta Dana Kehormatan Dinaikkan

Sejumlah anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Karanganyar meminta agar pemerintah menaikkan dana kehormatan. Selama ini, para anggota veteran tersebut menerima dana kehormatan senilai Rp250.000/bulan.

Seorang anggota LVRI Karanganyar, Mayor TNI AD (Purn) Rumain, mengatakan dana kehormatan yang diterima para anggota veteran dinilai terlalu minim. Dana kehormatan itu tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Terlalu sedikit, ya jelas tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” katanya saat ditemui Solopos.com seusai acara tabur bunga memperingati Hari Pahlawan yang dilakukan unsur Muspida Karanganyar di Taman Makam Pahlawan Dharma Tunggal Bhakti, akhir pekan kemarin.

Dia meminta agar pemerintah memperhatikan kesejahteraan para anggota veteran yang telah berjuang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pasalnya, setelah pensiun, para anggota veteran hanya mengandalkan tunjangan tersebut untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Menurutnya, para anggota veteran layak menerima dana kehormatan yang lebih tinggi. Perjuangan kala mempertahankan NKRI pada zaman penjajahan tidak sebanding dengan tunjangan yang diterima setelah memasuki masa pensiun. “Kalau bisa besaran dana kehormatan bagi para anggota veteran di atas Rp1 juta sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup,” ujarnya.

Sementara Wakil Bupati Karanganyar, Paryono, menuturkan pihaknya bakal memberikan penghargaan arau reward kepada para anggota veteran yang berjuang mempertahankan kemerdekaan pada masa penjajahan. Penghargaan itu bakal diberikan saat peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Karanganyar ke-95 yang jatuh pada tanggal 18 November 2012.

Menurut Paryono, para anggota veteran memang harus diperhatikan kesejahteraannya. Mereka telah berjuang hingga titik darah penghabisan pada mas penjajahan Kolonial Belanda. “Yang jelas ada reward bagi para anggota veteran sebagai bentuk apresiasi perjuangan mereka,” terangnya.

Sementara dalam acara tabur bunga tersebut dihadiri oleh unsur Muspida Karanganyar seperti Wakil Bupati Karanganyar, Paryono, Ketua DPRD Karanganyar, Sumanto, Kapolres Karanganyar, AKBP Nazirwan Adji Wibowo dan Komandan Kodim 0727/Karanganyar, Letnan Kolonel (Inf) Eddy Basuki.

Read More

Proyek Waduk Pidekso Dimulai 2013 : 200 KK Akan Tergusur

Pembangunan Waduk Pidekso yang sempat ditolak warga karena akan menggenangi tiga desa di Kecamatan Giriwoyo dan Batuwarno, Wonogiri, dipastikan mulai digarap pada 2013. Proyek diawali dengan pembebasan lahan warga. Diperkirakan, sekitar 200 kepala keluarga (KK) akan tergusur.

Kepastian dimulainya proyek Pidekso itu disampaikan Kepala Bidang Program dan Perencanaan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Lilik Retno, seusai meninjau lokasi bakal waduk bersama Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral, Muhammad Hasan, Kamis (8/11).

“Peninjauan ini untuk melihat sejauh mana kesiapan di lokasi setelah proses Larap dan Amdal kemarin. Tahun depan sudah bisa mulai dibangun diawali dengan pembebasan lahan. Tahap pembebasan lahan juga banyak, dan jika sudah selesai baru dilanjutkan proyek pengerjaan waduk,” kata Lilik.

Luas lahan genangan waduk untuk proyek ini sekitar 250 hektare. Kepala Dinas Pengairan Energi dan Sumberdaya Mineral, Arso Utoro mengatakan paling banyak warga yang terkena genangan ada di Desa Sendangsari, Kecamatan Batuwarno.

“Ada sekitar 200 KK, tapi yang perlu diingat tidak semua ada di area genangan, tapi ada yang di sempadan (tepi waduk-red). Untuk di Desa Tukulrejo (Giriwoyo) ada 68 KK dan di Desa Pidekso sebanyak 157 KK. Juga tidak semua genangan, sebagian sempadan. Lainnya berupa lahan penduduk,” jelasnya.

Baik Camat Giriwoyo, Sariman, Kepala Desa Tukulrejo, Kenthut Suparyono dan Kepala Desa Pidekso, Widodo mengatakan, ada warga yang meminta dibuatkan rumah. Ada pula yang ingin dibantu meratakan lahan cadangan yang kebetulan berada di bukit.

“Intinya semua warga kini sudah sepakat ada waduk ini. Bahkan saat ini sudah ada yang rencana pindah. Tapi mereka ingin agar pindahnya tidak jauh dari sini dan masih tetap dekat dengan tetangga mereka dulu. Ada juga yang terima hanya menerima uang ganti rugi saja,” kata Kenthut.

Atas hal itu Arso menampung semua usulan warga dan akan menyampaikan kepada pusat. Terutama untuk permintaan dibuatkan rumah meski seadanya.

Read More

Minim Aktivitas, Pernikahan Dini Ditempuh

Fenomena pernikahan dini masih cukup marak terjadi di wilayah Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, tahun ini. Salah satu penyebabnya yakni minimnya pilihan aktivitas baik yang bersifat formal maupun non-formal. Rata-rata usia pasangan yang akan menikah, jauh lebih muda ketimbang masyarakat yang tinggal di perkotaan.

Contoh saja sepanjang bulan Januari hingga Februari 2012, jumlah mempelai perempuan yang berusia di bawah 22 tahun mencapai 33 orang dari total 50 mempelai perempuan. Dari jumlah itu, tujuh orang di antaranya berusia di bawah 19 tahun. Sedangkan jumlah mempelai laki-laki yang berusia di bawah 22 tahun sepanjang rentang waktu yang sama sekitar 16 orang.

Ironisnya, sebagian besar dari pasangan yang menikah dini terebut belum mandiri secara ekonomi. Mempelai laki-laki masih tinggal bersama atau di rumah orangtua mereka. Mereka juga bekerja hanya sebagai petani penggarap lahan milik orangtua. Staf KUA Jatiyoso, Mardi, mengakui rata-rata pasangan yang mengajukan pernikahan, masih terbilang muda.

Dampaknya, menurut dia, angka perceraian pasangan suami-isteri di Jatiyoso tinggi. Sebagian besar pasangan yang mengajukan perceraian adalah pasangan muda belia. “Salah satu penyebab perceraian pasangan suami-istri adalah masih sangat mudanya mereka melangsungkan pernikahan,” katanya. Sayang Mardi tidak bisa menyampaikan secara detail angka perceraian di Jatiyoso.

Sementara berdasar Undang-undang (UU) No 1/1974 tentang Perkawinan diatur, mempelai perempuan dibolehkan melangsungkan pernikahan bila usianya sudah mencapai 16 tahun. Sedangkan untuk mempelai laki-laki, paling sedikit sudah berusia 19 tahun saat akan menikah. Bila pasangan yang akan menikah belum mencapai usia tersebut, yang bersangkutan harus mendapatkan izin dari pengadilan agama.

Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Jatiyoso, Budi Santoso, mengakui rata-rata umur pasangan di wilayahnya yang melakukan pernikahan jauh lebih muda dibanding masyarakat perkotaan. Salah satu penyebabnya adalah minimnya aktivitas baik formal maupun sekadar penyaluran hobi. Sehingga masyarakat memilih untuk menikah saat usia masih belia. “Kita ketahui bersama tidak banyak fasilitas yang bisa digunakan untuk mengisi waktu dan beraktivitas,” ungkapnya.

Read More

PENYELUNDUPAN CIU: Polisi Gagalkan Pengiriman 1.500 Liter Ciu

Jajaran Polres Karanganyar menggagalkan pengiriman 1.500 liter minuman keras jenis ciu di Jl Solo-Tawangmangu, Jumat (2/11/2012) sekitar pukul 13.00 WIB. Ribuan liter ciu tersebut bakal dikirim ke Jakarta menggunakan bus.

Informasi yang dihimpun Solopos.com menyebutkan Satuan Sabhara Polres Karanganyar mendapatkan informasi dari masyarakat mengenai pengiriman ribuan liter ciu yang dibawa menggunakan mobil menuju arah Palur. Selanjutnya, polisi melakukan patroli di sekitar kawasan Jaten dan menghadang sebuah mobil Carry berpelat nomor AD 8909 OG.

Di dalam mobil tersebut, polisi mendapati 15 kardus yang berisi ratusan liter ciu. Ciu tersebut dikemas dalam botol air mineral ukuran 1,5 liter. Setiap kardus berisi sekitar 28 botol ciu. Sementara supir dan penjual ciu segera digelandang ke Mapolres Karanganyar.

Wakapolres Karanganyar, Kompol Sigit Adiwuryanto, mewakili Kapolres Karanganyar, AKBP Nazirwan Adji Wibowo, mengatakan dua tersangka yang diamankan polisi masing-masing Mujanto, 37, dan Sigit, 33. Keduanya merupakan warga Dusun Sentul, Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo. “Sebelum dikirim ke Jakarta, petugas mencegat mobil yang terdapat kardus berisi ratusan liter ciu,” katanya.

Selanjutnya, petugas mengembangkan penangkapan tersebut dan menyita puluhan jeriken berisi liter di dalam bus. Dari tangan pelaku, polisi mengamankan barang bukti (BB) sebanyak 32 jeriken dan 40 kardus berisi ciu. Satu jeriken berisi sekitar 40 liter ciu sementara satu kardus berisi sekitar 400 lier ciu. Para tersangka dijerat sanksi tindak pidana ringan (tipiring) sesuai Peraturan Daerah (Perda) No 16/2009 tentang Peredaran Minuman Beralkohol dengan ancaman hukuman maksimal selama tiga bulan penjara.

Seorang tersangka, Mujiyanto, mengaku dia sudah tiga kali memasok minuman dengan kadar alkohol tinggi tersebut ke Jakarta. Biasanya, pelanggannya menghubungi untuk memesan ciu buatan Bekonang. Selanjutnya, dia mengirim ciu ke Jakarta menggunakan bus. Setiap botol dijual seharga Rp12.000. “Biasanya yang mesan anggota klub motor di Jakarta. Mereka biasa meminum saat melakukan turing,” imbuhnya.

Read More

Musim Hujan, Waspadai Penularan DBD

Warga diminta mewaspadai ancaman penularan penyakit Demam Berdarah Dengeu (DBD) selama musim penghujan. Pasalnya, tahun ini merupakan periode siklus lima tahunan yang dibarengi peningkatan jumlah penderita.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Karanganyar, Fatkul Munir, mengatakan jumlah penderita DBD hingga September 2012 sebanyak 63 kasus. Diperkirakan jumlah penderita DBD bakal membengkak selama musim penghujan.

“Biasanya peningkatan kasus terjadi selama musim penghujan karena nyamuk aedes aegypti dapat berkembang biak dengan cepat,” katanya kepada Solopos.com, Minggu (28/10/2012).

Menurutnya, terjadi perubahan pola pada kasus DBD yaitu penderita rata-rata dewasa dan orangtua. Padahal, sebelumnya mayoritas penderita DBD adalah anak-anak yang berusia di bawah 12 tahun.  Artinya, warga yang mempunyai mobilitas tinggi di luar rumah rawan terkena penyakit DBD.

“Ada perubahan yang signifikan karena mayoritas penderita orang dewasa bahkan ada yang lanjut usia. Ini perlu diwaspadai masyarakat,” katanya.

Daerah Perkotaan

Selain itu, penderita mayoritas berdomisili di daerah perkotaan seperti Karanganyar, Jaten dan Tasikmadu yang terdapat permukiman padat penduduk.

Pihaknya bakal memberdayakan masyarakat untuk memberantas jentik-jentik nyamuk di permukiman penduduk.  Warga dibantu para juru pemantau jentik (Jumantik) akan memeriksa tempat-tempat genangan air dapat menjadi sarang berkembang biak nyamuk.

Apabila terdapat penularan kasus DBD di satu titik lokasi maka pihaknya akan melakukan pengasapan atau fogging. Dengan pola tersebut maka diharapkan dapat menekan jumlah penderita DBD di wilayah Karanganyar.

Sementara seorang warga Kelurahan Lalung, Sudarman, meminta agar instansi terkait lebih giat melakukan penyuluhan-penyuluhan di pedesaan. Pasalnya, kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan masih minim.

Read More

Karanganyar Segera Bangun Gudang Cadangan Pangan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar segera membangun gudang cadangan pangan kabupaten di Kelurahan Bejen.

Anggaran pembangunan menggunakan dana alokasi khusus (DAK) 2012 senilai Rp544.873.000. Penjelasan itu disampaikan Kepala Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Karanganyar, Liliyani.

Menurut dia lahan yang akan digunakan untuk lokasi gudang adalah aset Pemkab Karanganyar. KKP telah mengajukan permohonan penggunaan lahan kepada Bupati Karanganyar, Rina Iriani SR.

“Permohonan resmi penggunaan aset lahan sudah kami sampaikan kepada bupati. Rencananya Rabu (24/10/2012) besok proses pembangunan akan masuk ULP [unit layanan pengadaan-layanan pengadaan secara slektronik],” katanya, saat ditemui Senin (22/10/2012), di kantornya.

Luas lahan yang diminta untuk pembangunan gudang sekitar 1.000 meter persegi. Namun dari luasan tersebut, lahan yang digunakan untuk gudang sekitar 20 meter x 15 meter dan halaman 10 meter x 12 meter. Secara bertahap, sisa lahan akan dimanfaatkan untuk lantai jemur. “Selama ini lahan aset Pemkab ini berupa lahan pertanian produktif,” imbuhnya.

Liliyani menjelaskan gudang cadangan pangan penting untuk menjamin ketersediaan pangan masyarakat Bumi Intanpari. Utamanya bila terjadi bencana, cuaca buruk, gagal panen dan kekeringan. Hanya saja untuk mekanisme detailnya, dia melanjutkan, sedang dalam perumusan lebih lanjut.  “Yang jelas nantinya akan dibentuk kelembagaan sebagai pengelola gudang. Pengelola ini di bawah kendali KKP,” terangnya.

Menurut Liliyani, akan ada pelatihan lebih detail oleh pemerintah pusat mengenai pemanfaatan gudang cadangan pangan. Sementara Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Karanganyar, Nunung Susanto, meminta proses pembangunan gudang cadangan pangan dikebut. Sebab waktu efektif pembangunan gudang sudah sangat mepet, sekitar dua bulan.

“Bila benar DAK-nya tahun ini, ya harus cepat dibangun dan selesaikan. Waktunya mepet sekali. Pengelola juga harus punya rencana pemanfaatan,” tegas dia.

Read More

Musim Penghujan, Warga Lereng Lawu Diminta Waspadai Longsor

Warga yang berdomisili di sekitar lereng Gunung Lawu diminta waspada saat terjadi hujan lebat disertai angin kencang. Pasalnya, daerah itu rawan terjadi bencana alam tanah longsor.

Informasi yang dihimpun, beberapa warga Dusun Guyon, Desa Tengklik, Kecamatan Tawangmangu merasakan pergerakan tanah sejak beberapa hari terakhir. Mereka mengkhawatirkan terjadi tanah longsor saat terjadi hujan selama berjam-jam. Selama ini, Dusun Guyon merupakan daerah rawan tanah longsor yang disertai dengan pergerakan tanah.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru K,  mengatakan terdapat 34 titik yang tersebar di delapan kecamatan teridentifikasi rawan longsor. Sebagian daerah tersebut berada di sabuk Gunung Lawu.

“Daerah yang rawan longsor terdapat di lereng terutama di wilayah sabuk Gunung Lawu. Kami minta agar warga waspada selama musim penghujan,” ujarnya, akhir pekan kemarin.

Menurutnya, kondisi sebagian tanah di sekitar lereng Gunung Lawu mengalami kelapukan tingkat tinggi. Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi, lokasi tersebut rawan longsor. Lereng gunung yang ketinggiannya lebih dari 15 derajat termasuk kategori bahaya.

Selama ini, pihaknya telah memasang 13 unit alat early warning system (EWS). Apabila terjadi pergerakan tanah maka sirine peringatan akan berbunyi. Apabila sirine berbunyi maka warga diminta untuk mengungsi ke daerah yang dianggap lebih aman. “Pemasangan alat hanya di lokasi rawan longsor karena alatnya terbatas,” ungkapnya.

Sementara seorang warga Dusun Guyon, Partidi, mengatakan pergerakan tanah terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah Karanganyar sejak beberapa hari lalu. Namun, pergerakan tanah tersebut hanya sesaat. Kendari demikian, warga tetap khawatir apabila tanah ambles dan menimpa rumah.

Read More

Tak Ada Izin Lingkungan, Puluhan Peternakan Ayam Rakyat Terancam Ditutup

Puluhan peternakan ayam di Karanganyar terancam ditutup apabila pengusaha atau pemilik peternakan tidak mengurus izin lingkungan. Selama ini, warga yang berdomisili di sekitar peternakan ayam sering mengeluhkan kondisi lingkungan yang kotor dan bau tidak sedap.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar, Muhammad Hatta, mengatakan sesuai aturan para pemilik peternakan ayam harus meminta izin kepada warga sekitar yang berdomisili di sekitar kandang ayam. Namun kenyataannya, para pengusaha ternak ayam langsung mendirikan kandang ayam tanpa meminta izin warga sekitar sebelumnya. “Kami minta agar pemilik ternak ayam mengurus izin lingkungan agar tidak ada komplain dari warga sekitar,” ujarnya.

Menurutnya, pihaknya sering menerima pengaduan dari warga yang resah karena lingkungannya kotor akibat dampak adanya kandang ayam. Apalagi pemilik peternakan ayam juga enggan mengurus izin lingkungan. Apabila telah mengantongi izin lingkungan maka segera dilaporkan ke instansi terkait agar diinventarisasi. “Masih banyak pengusaha peternakan ayam yang tidak mengurus izin lingkungan, tahu-tahu kami mendapatkan aduan dari warga yang akan menyegel kandang ayam. Kesadaran pemilik peternakan ayam sangat minim,” katanya. Selama 2011, pengusaha peternakan ayam yang melaporkan izin lingkungan ke Disnakkan berjumlah 11 orang. Padahal, peternakan ayam jenis rakyat berjumlah puluhan yang tersebar di seluruh wilayah Karanganyar.

Sementara seorang pemilik peternakan ayam, Khadiran, menyatakan dia meminta izin kepada warga sekitar yang rumahnya berjarak sekitar 500 meter dari kandang ayam. Setelah disetujui warga maka dia baru berani mendirikan kandang ayam. Kandang ayam dengan permukiman penduduk berjarak minimal 500 meter.

Dia menambahkan para pemilik peternakan ayam kurang memahami aturan mengenai izin lingkungan tersebut. Sehingga mereka langsung mendirikan kandang ayam apabila sudah mendapatkan lokasi peternakan ayam. “Kebanyakan memang tidak tahu karena biasanya lokasi kandang ayam di tengah-tengah perkebunan atau ladang,” imbuhnya.

Read More