2012, Pasar Jungke dan Tegalgede Direnovasi
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM) Karanganyar bakal merevitalisasi dua pasar tradisional tahun depan
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM) Karanganyar bakal merevitalisasi dua pasar tradisional tahun depan
Pedagang daging sapi di Bumi Intanpari mulai waswas dan memilih tidak membeli hewan ternak sembelihan dari Sragen. Hal ini lantaran munculnya kasus positif antraks pada sejumlah ternak sapi di Sragen. Sejumlah pedagang daging sapi di Pasar Jungke, Karanganyar, yang ditemui Espos, Minggu (22/5), mengaku enggan membeli daging sapi asal Sragen. Mereka khawatir daging sapi tersebut terjangkit antraks yang kini mulai menyebar di sejumlah wilayah di Sragen. “Saya ambil daging langsung dari tempat pemotongan hewan di Solo. Dan itu barangnya bukan dari Sragen ataupun Boyolali. Sri Rejeki mengatakan bersama pedagang daging sapi lainnya khawatir jika harus membeli hewan ternak sembelihan dari Sragen ataupun Boyolali. Dari segi kualitas daging pun, dia menuturkan daging yang berasal dari Sragen maupun Boyolali kurang baik. Daging sapi dari kedua wilayah itu biasanya basah atau tidak kering, tak seperti daging sapi dari Solo. “Harganya juga beda, kalau yang kualitasnya baik per kilogram Rp 60.000. Tapi, yang kurang bagus seperti dari Sragen atau Boyolali hanya Rp 55.000 per kilogram. Jaminan menuturkan senada disampaikan pedagang daging sapi lainnya Yamti, 55. Dia selama ini membeli daging sapi dari tempat pemotongan hewan di wilayah Karanganyar. Pihaknya menjamin daging yang dijualnya bebas dari berbagai penyakit seperti antraks lantaran mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Hingga kini, kasus antraks di Sragen dan beberapa lama lalu di Boyolali, tidak berpengaruh terhadap penjualan daging. “Tidak ada penurunan pembeli. Jadi memang tidak ada pengaruhnya karena daging yang kami jual tidak berasal dari sana (Sragen atau Boyolali-red) tapi dari Karanganyar sendiri. Dagingnya pun yang mengantongi SKKH,” ujarnya. Pedagang daging lain, Suprapti, 38, mengatakan semakin selektif dalam memilih daging. Daging-daging tersebut dilihat surat keterangan kesehatan hewannya apakah daging tersebut sehat atau memiliki riwayat sakit. Dengan demikian, dia mengatakan daging yang dijual di pasar merupakan daging berkualitas dan bebas terjangkit penyakit menular. “Kan bisa tahu kalau kondisi dagingnya jelek atau tidak. Jadi saat ambil daging di RPH (Rumah Pemotongan Hewan) dilihat hewannya sakit atau tidak. Biasanya yang masuk RPH, hewannya sehat-sehat,” katanya. Sebelumnya, Dinas Perternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar melakukan vaksinasi terhadap ratusan sapi dan kambing di Gondangrejo yang merupakan daerah perbatasan Sragen dan Boyolali. Vaksinasi dilakukan untuk mengantisipasi penularan antraks.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar melalui Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) akan memperketat pengawasan terhadap lalu lintas hewan ternak.
Bencana alam tanah longsor terjadi di Kecamatan Ngargoyoso dan Kecamatan Matesih, Senin (16/5). Di hari yang sama, rumah salah satu warga Kecamatan Jatipuro juga roboh karena diterjang angin kencang yang disertai hujan. Kerugian dari bencana tersebut mencapai puluhan juta rupiah.
Tanah longsor terjadi di Dusun Sumbersari RT 1/RW I, Desa Kemuning, Ngargoyoso dan di Dusun Balerejo RT 2/RW XI, Desa Koripan, Matesih. Di Balerejo, longsoran talud pondasi rumah milik warga setempat, Sariman Pawiro Wiyono, 50, menimpa rumah Senen Prapto Wiyono. Rumah Sariman terletak di sebelah rumah Senen, yang lokaisnya lebih rendah. “Karena kena longsor, kamar tidur dan dapur rusak.
Menurutnya, saat kejadian sekitar pukul 17.00 WIB, turun hujan yang cukup deras. Tak disangka, mendadak ada suara gemuruh dari samping rumah Senen. Karena tidak luat menahan gempuran talut rumah yang longsor, dinding rumah Senen pun jebol. Akibatnya, dinding rumah Senen bolong, tanah masuk ke dalam rumah dan dinding rumah pun juga retak.
Sementara di Kemuning, Ngargoyoso, pekarangan rumah milik Pawiro Sukarto, 70, ambrol. Tebing tanah pekarangan berukuran sekira 10 m x 6 m longsor dan langsung menutup jalan desa yang terletak di samping bawah rumah Pawiro. Mengetahui jalan tertutup, warga setempat langsung bekerja bakti membersihkan sisa tanah yang menutup jalan tersebut. Pekarangan rumah milik Jumadi, 45, juga longsor dan merusak kebun jagung di bawahnya.
Rumah roboh
Selain mengakibatkan tanah longsor, hujan deras yang berlangsung cukup lama disertai angin kencang pada Minggu (15/5) siang hingga malam, juga merobohkan rumah Supoyo, 53, warga Dusun Tegalkatak RT 5/RT II, Desa Jatisuko, Kecamatan Jatipuro. Akibatnya, rumah Supoyo roboh. Begitu mendengar suara gaduh di rumah bagian belakang, Supoyo sekeluarga langsung lari keluar rumah. “Atap rumah saya yang bagian belakang langsung roboh,” ujar Supoyo. Ia mengakui, rumahnya yang sudah lapuk itu memang sudah tidak kuat menahan beban. Sehingga saat ada angin kencang, beberapa bagian rumahnya langsung roboh.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru Kristanto mengimbau kepada warga yang tinggal di daerah rawan bencana, untuk tetap waspada. “Apalagi kalau setelah hujan lebat. Warga yang tinggal di zona merah rawan bencana, segera melapor ke pihak yang berwenang agar bisa cepat mendapatkan pertolongan
Warga yang tinggal di kawasan perumahan dan permukiman di Kecamatan Jaten, Karanganyar, diimbau mewaspadai cuaca yang terus berubah saat ini. Wilayah yang padat ini termasuk kawasan yang rawan bencana angin ribut dan puting beliung.
“Petugas perlindungan masyarakat (Linmas) di desa juga kami minta untuk memantau wilayah masing-masing,” ujar Camat Jaten, Bachtiyar Syarif, belum lama ini. Kesiagaan itu, lanjut dia, untuk mengantisipasi agar bila ada kejadian bencana alam bisa langsung ditangani.
Yang terpenting, kata dia, adalah evakuasi sesegera mungkin. Apalagi bila hal itu menyangkut dengan korban manusia maupun bencana yang bisa mengganggu kepentingan umum. Misalnya ada pohon tumbang dan sebagainya yang bisa menghalangi lalu lintas jalan, maka sebisa mungkin harus dilakukan evakuasi terlebih dahulu.
Bila menyangkut bencana atau kejadiaan alam yang di luar kemampuan untuk ditangani warga sendiri, maka warga diminta untuk segera melaporkanya ke pihak pemerintah desa yang nanti akan diteruskan ke instansi terkait guna penanganan.
Agar penanggulangan kejadian alam itu cepat tertangani, maka pihaknya juga berkoordinasi dengan instansi terkait seperti Puskesmas dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar. Ditambahkannya, banjir yang sering terjadi juga harus selalu diantisipasi. “Di Jaten banyak sungai yang mengalir dari saluran irigasi, maka itu juga tidak boleh luput dari perhatiannya.
Sebanyak 16 rumah yang terletak di Dusun Guyon, Tengklik, Kecamatan Tawangmangu terancam longsor. Mengantisipasi jatuhnya korban jiwa, pemerintah setempat mengupayakan warga yang masuk dalam zona longsor untuk direlokasi ke tempat yang lebih aman.
Jembatan penghubung antar dusun di Desa Gentungan, Kecamatan Mojogedang, Senin (9/5/2011) ambrol. Akibat kejadian tersebut, sebuah truk yang sedang melintas terperosok masuk ke sungai.
Warga yang tinggal di daerah rawan bencana baik banjir maupun tanah longsor diminta siaga menyusul hujan deras yang terus mengguyur wilayah Karanganyar dalam beberapa hari terakhir.
Longsor di Ganoman, Koripan, Matesih Jumat (6/5) meluas. Kondisi ini memaksa pengendara yang melintasi jalur Matesih – Tawangmangu harus mengantre, sehingga membuat transportasi menjadi tersendat.
Kabupaten (Pemkab) Karanganyar melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) menyiapkan sejumlah tanaman keras untuk ditanam di sejumlah daerah rawan longsor.
Beberapa daerah yang rawan longsor itu seperti di Kecamatan Tawangmangu, Kerjo, Matesih, Karangpandan dan Jatiyoso. Untuk menampung berbagai bibit tanaman yang akan ditanam di daerah tersebut, Pemkab sudah menyiapkan lahan seluas 1.500 meter persegi sebagai bank tanaman. Lokasi bank bibit tanaman itu berada di Tegalasri, Kelurahan Bejen, Kecamatan Karanganyar.
“Saat ini masih banyak daerah yang perlu ditanami. Terutama di daerah rawan longsor. Di Tawangmangu misalnya, sudah kita berikan sekitar 3.000 bibit pohon, tapi di sana juga masih kekurangan. Belum di daerah lainnya,” ujar Kepala BLH Karanganyar, Waluyo Dwi Basuki, belum lama ini. Karena itu, kata dia, pihaknya segera menyediakan berbagai jenis tanaman di area bank tanaman, untuk menampung berbagai jenis tanaman.