Tahun Baru, Tawangmangu Dipadati Pengunjung
Agrowisata Sondokoro, PG Tasikmadu, Karanganyar menyiapkan 31.000 lembar tiket khusus untuk menyemarakkan tahun baru 2012 besok. Untuk mencapai target tersebut, Sondokoro kembali menggelar berbagai event, seperti pertunjukan live music, kesenian Reog dan atraksi hiburan lainnya.
Marketing dan Humas Agrowisata Sondokoro, Teguh Sinung Nugroho mengungkapkan, setiap masa pergantian tahun jumlah pengunjung selalu mengalami kenaikan cukup signifikan.
”Tahun 2009 tiket terjual mencapai 26.085 lembar, 2010 melonjak jadi 31.018 tiket dan tahun 2011 tambah lagi menjadi 31.289 tiket. Tahun 2012 nanti kita berharap bisa di atas 31.000-an,”
Target 31.000 pengunjung tersebut menurutnya, hanya dikhususkan menjelang pergantian tahun 2012. Mengingat selama dua hari terakhir, yakni untuk Sabtu (31/12) dan Minggu (1/1/2012) akan ada atraksi yang didatangkan secara khusus. ”Malam tahun barunya biasanya memang sepi, tapi keesokan harinya selalu ramai dari pagi sampai sore hari,” kata dia.
Sinung menegaskan pihaknya juga berkeinginan, selain dapat menghibur juga dapat memberikan nuansa edukasi dan pelestarian terhadap kebudayaan yang ada di Karanganyar. ”Semakin banyak pengunjung, bagi karyawan tentunya akan berimbas kepada peningkatan kesejahteraan,” ujarnya.
Wana wisata Grojogan Sewu yang berada di Kecamatan Tawangmangu, mulai diserbu wisatawan dari berbagai daerah terutama dari luar kota menjelang tutup tahun 2011, Kamis (29/12).
Anda kurang puas hanya dengan satu buah durian ukuran kecil? Sekarang tidak perlu khawatir, pencinta durian bisa menikmati buah durian berukuran ekstra jumbo. Ya, durian jenis montong dan kani yang berasal dari Bangkok, Thailand dengan berukuran 10 kg sampai 15 kg bisa ditemui kebun Ndeso Buah di Tepus, Bulurejo RT 3/ RW XIII Desa Sewurejo, Kecamatan Mojogedang, Karanganyar.
Rasanya tidak kalah dengan durian lokal Karanganyar. Apalagi semakin maknyus jika memetik langsung dari pohonnya. Di lahan sekitar dua hektare, Ndeso Buah memiliki hampir 100 pohon durian dari berbagai jenis. Namun jenis yang paling mendominasi adalah durian montong dan kani dari Bangkok.
Warga yang datang ke kebun Ndeso Buah dibuat seolah berwisata durian. Durian dengan ukuran tiga bahkan lima kali lipat dari wajah manusia ini bisa ditemui di kebun durian tersebut.
Pelanggan tinggal memilih. Durian montong seharga Rp 24.000/kg dan durian kani Rp 20.000/kg. Pelanggan bisa menikmati buah durian di sana. Tidak sedikit warga melewatkan liburan di kebun Ndeso Buah.
Seperti halnya dilakukan Aris, 34, warga Boyolali yang datang bersama keluarga besarnya ke sana, Senin (26/12/2011). Aris mampir setelah berekreasi ke Grojogan Sewu, Tawangmangu.
“Tadi dari Tawangmangu langsung mampir ke sini. Ya mau beli durian montong yang bisa dinikmati bersama dengan keluarga.
Hal senada disampaikan Dewi Palupi, 28, warga Colomadu. Dewi akan kembali ke kebun durian itu saat panen, awal Januari nanti. “Harus buat janji dulu. Karena durian yang ada di sini baru panen lagi nanti Januari,” ujarnya.
Dia senang menikmati durian dengan suguhan pemandangan tanaman durian. Bahkan bisa memilih langsung durian dari tanaman tersebut. “Beli satu buah durian saja bisa untuk berlima. Mantap. Pokoknya enak sekali rasanya,” tuturnya.
Pengelola Ndeso Buah, Johan Ariyono, mengatakan pada musim panen kali ini, 99% dari 100 pohon berbuah. Setiap pohon menghasilkan 30-50 buah dengan berat rata-rata 5 kg, bahkan ada yang mencapai 13 kg. Sedangkan durian kani seberat 4-5 kg. “Hampir tiap hari tidak pernah sepi pembeli. Namun biasanya bagi pelanggan lama, kalau datang ke sini selalu telepon dulu. Tanya ada yang matang atau tidak,” ujarnya.
Saat ini Karanganyar mulai mengembangkan durian montong serta kani untuk mewujudkan sentra durian di Indonesia. Durian montong dan kani memiliki keunggulan dibandingkan buah durian lokal, buahnya lebih besar dan berbiji kecil. Pengembangan durian montong ini merupakan terobosan baru untuk memanjakan para pencinta buah durian.
Ribuan pengunjung dari berbagai daerah mulai membanjiri obyek wisata di Karanganyar pada libur Natal serta liburan sekolah. Bahkan pengunjung agrowisata Sondokoro serta Grojogan Sewu, Tawangmangu membludak.
Di Sondokoro, tidak kurang 9.000 orang berkunjung di obyek wisata tersebut. Jumlah pengunjung ini naik 600 persen lebih dibanding jumlah pengunjung pada hari libur biasa. Hampir seluruh wahana di obyek wisata tersebut diserbu pengunjung seperti kereta uap, wisata alam, Saka Sinema serta outbond.
Salah satu pengunjung, Ambar, 29, warga Solo ditemui mengaku datang bersama keluarganya berlibur di Karanganyar. “Kami datang untuk liburan di Karanganyar. Semua anggota keluarga di bawa main di sini,” ujarnya.
Manager Agrowisata Sondokoro Megantoro menuturkanselama libur Natal dan sekolah ini jumlah pengunjung terus merangkak naik. Pada hari biasa rata-rata jumlah pengunjung hanya 1.500 orang. Namun kali ini jumlah pengunjung membludak hingga mencapai 7.000-9.000 orang.
Sementara obyek wisata lain bernuasa alam seperti Grojogan Sewu juga ramai dikunjungi pada liburan kali ini. Pengelola obyek wisata Grojogan Sewu, Sukirdi melalui Kepala Tata Usaha dan Personalia Widodo mengatakan jumlah pengunjung memang mengalami kenaikan pada libur Natal dan sekolah kali ini.
Diperkirakan jumlah pengujung akan terus membludak mengingat libur sekolah masih beberapa hari ke depan. Selain itu juga libur Tahun Baru 2012. Kalau pada hari biasa, jumlah pengunjung Grojogan Sewu tidak lebih dari 200 orang per hari. Namun pada liburan kali ini jumlah pengunjung mencapai lebih dari 5.000 orang.
”Diperkirakan akan terus meningkat sampai puncaknya hari Sabtu-Minggu nanti mengingat bertepatan dengan libur pergantian tahun,” tuturnya.
Banyaknya warung atau kios durian di pertigaan SMP Matesih membuat ruas jalan utama yang menghubungkan Kecamatan Matesih dengan Kecamatan Tawangmangu macet, terutama pada libur akhir pekan.
Pasalnya selain banyak pedagang durian yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan, para pembeli turut memperparah karena akses parkir yang asal-asalan. Salah seorang pengguna jalan, Suroto (36) mengaku mengeluhkan laju kendaraannya yang tersendat akibat banyaknya pedagang durian yang menjajakan dagangannya di sepanjang pertigaan tersebut. Sehingga kendaraan yang akan menuju Tawangmangu atau sebaliknya terpaksa harus berjalan merayap jika banyak pembeli yang berjubel di kios pedagang durian itu.
“Jualan boleh saja, asalkan bisa diatur. Jangan di pinggir jalan apalagi dekat pertigaan, kasihan pengguna jalan yang lain,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroh menjelaskan bahwa puncak panen durian di Karanganyar sebenarnya baru terjadi di Bulan Januari mendatang.
Tingginya produksi buah baik dari Kecamatan Matesih, Jumantono, Jumapolo dan Jatipuro akhirnya membuat mereka menjajakan durian yang berbuah setahun sekali tersebut ke pinggir jalan, salah satunya yakni di pertigaan Matesih karena dianggap sebagai kawasan strategis. Terpisah, Kepala Disperindagkop dan UMKM Karanganyar, Sundoro menyatakan tidak membangun semacam kios, mengingat pedagang durian tersebut sifatnya musiman.
Antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan menjelang Perayaan Natal dan Tahun Baru 2012, aparat Kepolisian dari Polres Karanganyar melakukan penyisiran di sejumlah Gereja di Karanganyar, Jumat (23/12) pagi. Dengan mengerahkan 25 personel dari berbagai kesatuan, mereka melakukan penyisiran di segala penjuru dengan menggunakan anjing pelacak dan sejumlah alat seperti metal detector.
Kabag Ops Polres Karanganyar, Kompol IK Budayana mewakili Kapores Karanganyar, AKBP Nazirwan Adji Wibowo mengatakan dalam penyisiran kali ini, pihaknya melakukan pengecekan secara menyeluruh mulai dari lingkungan sekitar gereja, halaman, tempat ibadah hingga sudut-sudut ruangan. “Semuanya kita periksa secara mendetail di setiap ruangan baik dalam dan luar tembok gereja,” ujarnya seusai memimpin penyisiran di Gereja St Pius X, Jalan Lawu Karanganyar, Jumat (23/12).
Ia menambahkan, demi kenyamanan dan keamanan dalam perayaan natal nanti, pihak kepolisian melarang seluruh jemaat gereja untuk membawa tas ke dalam gereja. Jika pun masih ada yang membawa, maka tas tersebut wajib dititipkan kepada petugas keamanan di luar. “Jadi tolong buat jemaat membawa barang yang dibutuhkan saja saat melakukan ibadah ke Gereja,” tandas dia.
Pengurus Gereja Katolik St Pius X, Bambang Suyono menyambut baik penyisiran yang dilakukan oleh aparat kepolisian tersebut. Ia mengatakan antisipasi ini merupakan salah satu bentuk upaya agar nantinya perayaan natal berjalan aman. Selain pengamanan dari aparat, dirinya juga mengaku tidak akan menggunakan pengamanan tambahan, mengingat lingkungan sekitar dan pemuda setempat selama ini cukup ramah dengan lingkungan Gereja.
Sekitar seribu pohon jenis glodog pecut ditanam oleh anggota Pramuka dari tingkat SD, SMP dan SMA di Karanganyar di seputaran Kecamatan Jumapolo, Rabu (21/12). Penanaman pohon dilakukan guna mengajak generasi muda khususnya pramuka di Karanganyar untuk mencintai lingkungan hijau yang bersih, indah dan asri.
Wakil Bupati Karanganyar, Paryono mengatakan dengan semakin banyak menanam pohon, maka dapat meningkatkan jumlah air hujan yang terserap dalam tanah. Sehingga sumber daya air dapat terjaga. “Selain itu tentu akan menambah keindahan lingkungan di sekitar, karena banyak pepohonan yang rindang,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam pembukaan acara tersebut di Kecamatan Jumapolo, Rabu (21/12).
Dirinya juga menambahkan sangat bangga, karena ternyata Pramuka dapat menjadi bagian gerakan menanam pohon di Karanganyar. Menurutnya semakin dini mengajarkan menanam pohon tentunya akan lebih baik. “Kita berharap ini akan terus berkesinambungan, tidak berhenti disini,” imbuh dia.
Sejumlah pejabat di Karanganyar mulai Kepala Dinas hingga para camat berjajar rapi, duduk bersila di Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Selasa (20/12). Kedatangan mereka sekitar pukul 08.00 WIB tersebut bukan karena akan ada pengarahan dari Bupati, namun datang guna mengikuti prosesi jamasan keris Kyai Pamot. Keris ini adalah pusaka titipan dari Raja Mangkunegaran VIII kepada Pemerintah Kabupaten Karanganyar pada masa Bupati Hartono tahun 1985.
Prosesi jamasan itu sendiri berlangsung sangat sederhana dibandingkan dengan jamasan tahun lalu. Tahun lalu, sebelum dijamas, keris diarak mengelilingi pendapa rumah dinas Bupati dan dihadiri berjubel warga sekitar.
Setelah dijamasi selama 15 menit, keris Kyai Pamot langsung dimasukkan dalam kotaknya dan diserahkan kembali kepada Bupati untuk disimpan di tempat semula.
Bupati Rina Iriani mengungkapkan jamasan tersebut dilakukan untuk membersihkan dari segala kesialan dan meminta perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Karanganyar selalu tenteram. “Bupati sebelum saya juga melakukan jamasan, jadi ini hanya meneruskan tradisi saja. Dan meminta perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujarnya (20/12).
Sementara itu, Abdi Dalem Keraton Mangkunegaran, Lilik Priyarso mengatakan jamasan Kyai Pamot harus dilakukan pada bulan Sura dengan filosofi bulan ini adalah bulan suci untuk memulai segala sesuatu. “Jadi di awal bulan, harapannya semuanya itu bersih termasuk pusakanya juga,” kata dia.
Lilik menjelaskan adanya Keris Kyai Pamot berawal dari permintaan warga Karanganyar agar memiliki sebuah pusaka, akhirnya dari Mangkunegaran VIII sekitar tahun 1960-an menitipkan Kyai Pamot di Karanganyar.