Category: Berita

BENCANA ALAM: 4 Desa di Karanganyar Rawan Longsor

Empat dari sembilan desa di Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, rawan tanah longsor saat musim penghujan.
Empat desa itu Beruk, Wukirsawit, Wonokeling dan Wonorejo. Penjelasan itu disampaikan Sekretaris Kecamatan Jatiyoso, Budi Santoso, saat ditemui , Senin (3/9).

“Empat desa ini paling rawang bencana tanah longsor setiap kali datang musim penghujan,” kata dia.

Penyebab ancaman longsor yakni struktur dan kemiringan tanah empat desa itu. Untuk itu, Budi mengimbau, masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor supaya selalu waspada. Utamanya selama musim penghujan. Pengurus rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) setempat diminta pro aktif memantau kondisi wilayah. Bila muncul potensi bencana harus segera dilaporkan kepada jejaring pemerintah di atasnya.

“Sebab terdapat permukiman warga di titik-titik rawan longsor itu,” imbuhnya.

Budi melanjutkan, selain permukiman penduduk ada juga perbukitan gundul yang rawan longsor. Penyebabnya aksi penebangan pohon oleh warga untuk kepentingan memperoleh pendapatan.

“Di sini cukup banyak hutan yang kondisinya gundul, sedikit sekali pohonnya. Sebab kendati masih berukuran kecil, pohon-pohon di hutan sudah laku dijual,” sesal dia. Berdasar pengamatan, sebagian besar kawasan Jatiyoso bebukit-bukit.

Aksi penebangan pohon untuk kepentingan ekonomis warga semakin meningkatkan potensi terjadinya longsor. Ditambah lagi tingginya intensitas dan volume hujan selama musim penghujan. Salah seorang warga Glagahmalang, Wonorejo, Astuti, mengungkapkan sebelumnya di wilayahnya beberapa kali terjadi musibah longsor. Bahkan pernah terjadi longsor yang sampai menelan korban jiwa beberapa tahun lalu.

“Dusun kami memang berbukit, tidak rata,” akunya.

Read More

Cegah Kebakaran, Pendakian Lawu Ditutup Sementara

Aktivitas pendakian Gunung Lawu sementara ini ditutup untuk umum. Hal itu menyusul maraknya peristiwa kebakaran hutan selama musim kemarau ini.
Camat Tawangmangu, Yopy Eko Jati Wibowo, mengatakan aktivitas pendakian Lawu ditutup sudah berlangsung selama seminggu terakhir. Penutupan itu merupakan instruksi langsung dari pihak Perhutani Jawa Tengah.
“Pada musim kemarau ini cuaca sangat terik dan angin yang berembus juga lumayan kencang. Sehingga sedikit saja ada nyala api, mudah menjadi besar. Pertimbangan inilah yang dijadikan alasan,” jelas Yopy, Minggu (2/9).
Walaupun pelarangan pendakian sementara tersebut sudah diberlakukan, Yopy  mengaku masih ada saja pendaki yang membandel tetap naik ke puncak Lawu. Para pendaki itu biasanya melewati jalur tak resmi. “Kalau pendaki yang nekat melalui jalur resmi pendakian seperti Cemoro Kandang, tentunya akan kami minta untuk kembali dan menghentikan pendakian,” ujarnya.
Selama musim kemarau berlangsung, kawasan puncak Gunung Lawu, sering sekali terjadi insiden kebakaran. Puncak dari insiden kebakaran hutan terjadi pada bulan Ramadan kemarin, yang terjadi di areal hutan lindung petak 53, yang berjarak sekitar 300 meter dari pos 1 Cemoro Kandang.
Di area yang berbatasan dengan wilayah Magetan, Jawa Timur tersebut, sekitar 5 hektare di atas Kawah Candradimuka terbakar hingga di area Kali Mati. Yopy sendiri mengaku belum bisa memastikan sampai kapan pendakian Lawu akan ditutup. “Setidaknya hingga musim kemarau berakhir dan kondisi sudah memungkinkan untuk dilakukan pendakian,” ungkapnya. n Muhammad Ikhsan

Read More

Kasus ISPA & Diare Meningkat 20 Persen

Angka kasus penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan diare yang ditangani Puskesmas Jatipuro, Karanganyar, mengalami peningkatan 20 persen dua bulan terakhir.

Hal itu diungkapkan Kepala UPT Puskesmas Jatipuro, dr Kristanto Setyawan, saat ditemui di kantornya, Sabtu (1/9/2012). “Untuk bulan Juli saja tercatat 77 kasus diare dan 126 kasus ISPA. Jumlah itu terbilang naik sekitar 20 persen dibanding angka kasus pada bulan-bulan biasa. Tapi belum sampai terjadi kejadian luar biasa (KLB),” katanya.

Kristanto menjelaskan situasi dinyatakan KLB bila persentase peningkatan angka kasus lebih dari 100 persen. Peningkatan angka kasus terjadi karena tingginya mobilitas warga selama Lebaran. Selain iotu karena kurang terjaganya kebersihan makanan yang dikonsumsi. “Jumlah penderita penyakit ini memang selalu meningkat setelah Lebaran,” imbuhnya.

Kristanto menerangkan penanganan penderita ISPA dan diare dilakukan dengan pemberian obat. Lebih dari itu, bidan desa dan petugas promosi kesehatan (promkes) didorong untuk menyosialisasikan cara pencegahan dua penyakit tersebut. Kongkretnya berupa perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga stamina dengan cukup istirahat, mengurangi konsumsi es dan rokok.

Begitu juga sosialisasi pencegahan penyakit diare dengan membiasakan diri cuci tangan memakai sabun, menjaga kesehatan lingkungan, menjaga kebersihan makanan dan tidak membuang air besar sembarangan. “Saat ini masih ada sebagian warga yang buang air besar di kali atau pekarangan. Alasannya sudah menjadi kebiasaan sejak kecil,” imbuhnya.

Dari 10 desa di Kecamatan Jatipuro belum ada satu pun desa yang bebas 100 persen dari perilaku buang air besar sembarangan. Berdasar pendataan petugas Puskesmas diketahui persentase ketersediaan jamban di 10 desa di Jatipuro baru mencapai 79 persen. Selain tidak membuang air besar di pekarangan dan kali, warga juga diminta mengonsumsi air bersih. Sebab cakupan ketersediaan air bersih di Jatipuro sudah mencapai 100 persen.

Read More

Lahan Cengkeh di Jatiyoso Susut Signifikan

Lahan produktif tanaman cengkeh di Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, berkurang signifikan 15 tahun terakhir.

Berdasar data di kantor pertanian kecamatan setempat, penyusutan lahan mencapai 60 persen dari luas sebelumnya. Saat ini tinggal 1.300 hektare lahan tanaman cengkeh di wilayah kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri itu.

Informasi yang dihimpun  akhir pekan kemarin menyebut, penyusutan lahan terjadi sangat signifikan sejak 1994-1995 silam. Ketika itu Badan Penyangga Pemasaran Cengkeh (BPPC) mendorong pengurangan populasi cengkeh menyusul jatuhnya harga jual. Saat itu satu kilogram cengkeh hanya dihargai Rp750.

Petugas Operasional Pertanian Kecamatan Jatiyoso, Sukandar, saat ditemui mengatakan petani mengalihkan sebagian lahan cengkeh dengan komoditas palawija serta melinjo dan buah-buahan.  “Sejak dulu cengkeh adalah komoditas unggulan. Tapi populasinya sudah jauh berkurang,” katanya.

Harga Tinggi

Meski demikian karena pengurangan besar-besaran lahan cengkeh, masa panen raya saat ini harganya kembali tinggi. Satu kilogram cengkeh basah dijual petani seharga Rp30.000. Situasi tersebut menjadi keuntungan tersendiri petani cengkeh di Jatiyoso. Penebangan besaran-besaran tanaman cengkeh di kecamatan lain membuat Jatiyoso satu-satunya sentra cengkeh di Bumi Intan Pari.

“Saat ini masa panen raya cengkeh, siklus yang terjadi empat tahunan,” imbuh Sukandar.

Penjelasan senada disampaikan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Jatiyoso, Zaini Fahrudin. Menurut dia, sembilan desa di Jatiyoso memiliki lahan produktif tanaman cengkeh. Sementara salah seorang petani cengkeh asal Glagahmalang, Wonorejo, Jatiyoso, Satiyem, mengakui hasil panen tahun ini cukup menggembirakan.

“Harga satu kilogram cengkeh basah Rp30.000, lumayan tinggi,” akunya.

Read More

Pembangunan Jalan Nangsri Butuh Dana Rp350 Juta

Pembangunan jalan Desa Nangsri membutuhkan dana Rp350 juta. Jalan di Desa Nangsri menghubungkan Nangsri Lor dan Tasgunting kini dipenuhi lubang.  Jalan tersebut merupakan akses kendaraan pertanian dan warga.

“Jalannya nggronjal bikin kendaraan rusak.  Harus hati-hati kalau lewat sini! Harapannya supaya cepat diperbaiki,” ungkap Sri, warga yang kebetulan melintas di jalan itu.

Dikonfirmasi ke Lurah Desa Nangsri, Sukarni, sudah berencana melakukan pembangunan jalan desa itu.  “Perbaikan jalan sepanjang kira-kira dua kilometer itu sudah kami buat perencanaannya.  Jalan yang akan diperbaiki juga sudah digambar.  Tinggal tunggu dana saja,” jelas Sukarni.

Menyoal dana, Sukarni mengeluh karena tidak ada anggaran desa yang dapat digunakan untuk melakukan pembangunan desa.  Perencanaan Sukarni, dana PNPM 2013 seluruhnya akan ia kucurkan untuk proyek perbaikan jalan.  Itupun, menurutnya tak cukup.

“Dana PNPM paling hanya sekitar Rp100 juta.  Tidak dapat memenuhi taksiran pengeluaran biaya yang mencapai Rp350 juta.  Untuk swadaya warga juga tidak memungkinkan untuk menutup pendanaan yang begitu besar,” ungkap Sukarni.

Sukarni telah berupaya mengirimkan proposal pembangunan jalan sampai tingkat provinsi.  Namun, sampai saat ini belum ada tanggapan.  Demikian pula dengan bantuan dari Pemkab Karanganyar juga belum ada.

Read More

Tahun Ini 497 Jemaah Haji Diberangkatkan

Tahun ini sebanyak 497 jemaah haji asal Karanganyar bakal diberangkatkan ke Tanah Suci. Dari jumlah itu, sebagian besar sudah melunasi pembayaran ongkos naik haji. “Yang sudah lunas sekitar 476 orang, dan pelunasan terakhir sampai dengan 8 September mendatang,” kata Kabag Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah (Setda) Karanganyar, Tarsa, Kamis (30/8).
Sejauh ini Pemkab sendiri belum bisa memastikan kapan jemaah haji tersebut akan diberangkatkan. Jadwal pemberangkatan sepenuhnya kewenangan pusat. Dan saat ini jemaah haji masih dalam tahap pembekalan. “Hari ini (kemarin) masih pembekalan dan rencananya dua hari,” ujar Tarsa.
Pembekalan pertama dilakukan di Pendapa Rumah Dinas Bupati dengan materi seputar teori haji. Kemudian dilanjutkan hari ini, Jumat (31/8), praktik manasik haji di dua tempat. “Praktiknya manasik digelar di Masjid Agung Karanganyar dan Lapangan Malanggaten, Kebakkramat,” tambah Tarsa.
Dari ratusan jumlah jemaah haji itu, paling banyak dari Kecamatan Karanganyar Kota yaitu mencapai 100-an jemaah. Kemudian disusul Kecamatan Jaten sekitar 80 orang. “Di sisa kecamatan lainnya jumlahnya merata,” kata Tarsa.

Read More

Pendaftar e-KTP Baru Mencapai 87 Persen

Selama musim Lebaran kemarin, pelayanan e-KTP di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Karanganyar hanya mengalami peningkatan 3 persen. Sehingga saat ini jumlah warga yang tercatat sudah memiliki bukti kependudukan dan mendaftar e-KTP menjadi 87 persen.
Kepala Dispendukcapil Karanganyar, Sucahyo, mengatakan pihaknya memprediksi pendaftar e-KTP pada musim Lebaran kemarin bakal melimpah. Namun prediksinya meleset karena jumlah pendaftar tidak sesuai dengan yang diperkirakan. “Lebaran kemarin hanya naik 3 persen, di luar dugaan,” katanya, Rabu (29/8).
Sucahyo menjelaskan, bahwa hal tersebut terjadi dimungkinkan karena adanya surat edaran dari pemerintah pusat yang menyatakan bahwa pelayanan e-KTP dapat dilakukan di daerah domisili. Dan tak harus di daerah asal warga. “Selain itu, mungkin juga ada warga yang masih malas mencari e-KTP ini,” jelasnya.
Hingga Agustus ini, Sucahyo menyampaikan bahwa total wajib e-KTP yang telah terlayani sudah sekitar 566.000 jiwa. Sedangkan total penduduk di Karanganyar yang wajib e-KTP ada sekitar 652.091 jiwa.
Untuk menyelesaikan pelayanan e-KTP tersebut, pihak Dispendukcapil akan melakukan sistem jemput bola. Nantinya satu alat rekam data yang ada di tiap kecamatan akan digunakan untuk mengelilingi penduduk dengan menggunakan 17 armada. Hal ini juga sebagai antisipasi bagi penduduk yang telah lanjut usia. “Kami sedang mengejar target selesai hingga akhir Oktober mendatang,” jelasnya.
Sucahyo yakin dapat menyelesaikan target dengan langkah tersebut jemput bola tersebut. Untuk sisa wajib e-KTP yang belum terdaftar nantinya dapat mengurus sendiri secara reguler.

Read More

GROJOGAN SEWU: Harga Karcis Naik, Pelayanan Harus Ditingkatkan

Terkait harga karcis atau tiket masuk objek wisata Grojogan Sewu yang bakal naik 50%, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Karanganyar, Sugiyarto mengaku mendukung asal pelayanan pada pengunjung juga ditingkatkan.

Hal tersebut diungkapkan Sugiya saat dihubungi via telepon, Selasa (28/8/2012).

“Pembangunan infrastruktur diperbaiki demi kenyamanan masyarakat. Saya mendukung asalkan layanan dan pengelolaan selalu dijaga dengan baik,” ujarnya.

Grojogan Sewu, kata dia, merupakan aset wisata andalan di Karanganyar dan dia  berharap aset tersebut untuk selalu dijaga dan dikembangkan.

Seperti diberitakan sebelumnya, harga karcis atau tiket masuk objek wisata Grojogan Sewu di Tawangmangu, Karanganyar akan naik 50% dari Rp6.000 menjadi Rp9.000. Kepala tata Usaha (KTU) Grojogan Sewu, Widodo, mengatakan kenaikan tersebut dikarenakan pemasukan dari karcis tersebut tidak mencukupi biaya operasional saat ini.

Meski demikian dirinya belum bisa memastikan kapan kenaikan harga karcis akan dimulai. “Yang jelas saat ini kami sedang ajukan kepada PT Duta Indonesia Jaya selaku pengelola  agar kenaikan [harga karcis] tersebut secepat mungkin,” ujarnya saat ditemui.

Read More

Karanganyar Surplus 100.000 Ton Beras

Kabupaten Karanganyar pada tahun 2012 surplus beras 100.000 ton.

Hal itu disampaikan  Kepala Dinas Tanaman Pangan, Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbuthut) Karanganganyar, Siti Maisyaroch, di ruang kerjanya, Senin (27/8/2012).

Siti mengatakan surplus beras ini cukup banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dia menambahkan, sistem pola tanam yang dilakukan petani Karanganyar dinilai cukup berhasil. “Kami saat ini penyangga ketahanan pangan di wilayah Kota Solo,” ujarnya.

Kecamatan penghasil terbanyak didominasi kecamatan yang mendapat pengairan cukup. “Tasikmadu, Mojogedang, dan Karanganyar merupakan kecamatan andalan kami,” ujarnya.

Read More

Kekeringan Landa Lahan Pertanian di 4 Kecamatan

Kekeringan melanda lahan pertanian di empat wilayah kecamatan di Karanganyar.

Hal tersebut seperti diungkapkan Kepala Dinas Tanaman Pangan, Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbuthut) Karanganganyar, Siti Maisyaroch, Senin (27/8/2012).

Saat diwawancarai tentang wilayah  kekeringan. Siti mengatakan ada empat kecamatan di Kabupaten Karanganyar yang saat ini dalam kondisi kekeringan. “Jumantono, Jumapolo, Jatiyoso dan Jatipuro (4 J) karena struktur tanah disana memang sebagai lahan tadah hujan,” ujarnya.

Petani yang ingin mengajukan bantuan, kata dia, dianjurkan melalui proses prosedural. “Jadi lewat kelompok tani dan diajukan melalui proposal sehingga kami paham betul permasalahanya,” ujar dia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, (BMKG), kata Siti, hujan akan turun apada akhir Oktober mendatang. “Saya harapkan petani wilayah 4J  jangan menanam padi dahulu jika tidak ingin rugi,” ujarnya.

Sementara seorang petani  Desa Kwangsan, RT001/RW009, Jumapolo, Nardi saat ditemui  mengaku resah karena kesulitan mencari air untuk lahan pertaniannya selama musim kemarau tiba. “Kami sulit mencari air terpaksa kami nganggur  selama belum turun hujan,” ujarnya.

Dia menambahkan mulai  terjadi kekeringan dalam lima bulan terakhir. Dia berharap Dispertanbuthut Karanganyar memberikan solusi kepada petani sekitar untuk mengatasi kekeringan tersebut.  “Kami tidak bisa menanam tanaman apapun  karena pasti akan mati dan kami merugi,” tambahnya.

Read More