Category: Kesehatan & Olahraga

Sidak, DKK Karanganyar temukan label makanan tak diperbarui

Tim Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar menemukan kemasan makanan yang labelnya sudah lama dan tidak diperbarui, dalam inspeksi mendadak (Sidak) di salah satu toko roti Desa Ngijo, Tasikmadu, Senin (8/8/2011) siang. Selain itu, tim DKK juga menemukan roti yang diduga pembuatannya dicampur dengan pewarna tekstil. (more…)

Read More

Gogon berbagi lawak & ilmu bahaya Narkoba

Ratusan siswa SDN 1 Dagen, Kecamatan Jaten, Kamis (4/8./2011), mendapatkan suguhan istimewa, pertunjukan sulap. Mendengar kata sulap, anak-anak pun senang.

Read More

Disnakkan Karanganyar minta masyarakat waspadai daging semigelonggongan dan daging busuk

Masyarakat Karanganyar diminta mewaspadai adanya daging busuk dan semigelonggongan yang beredar di sejumlah pasar. Pasalnya, saat Bulan Puasa seperti ini, banyak oknum yang mengeruk untung dengan menjual daging yang sebenarnya tidak layak konsumsi.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar, Muhammad Hatta, mengatakan, selama ini Disnakkan belum mendapatkan laporan adanya daging gelonggongan di Karanganyar. Kendati demikian, masyarakat diminta untuk waspada terhadap daging yang dijual di pasar. Bila warga mencurigai ada daging sapi yang lembek, terlihat basah dan warnanya tidak merah cerah, diimbau untuk melaporkannya ke Disnakkan. Selain itu, masyarakat juga harus mewaspadai daging yang dijual dengan cara digantung, tidak ditaruh di meja.

“Bila kadar keasaman (PH) berkisar antara 5-6, itu ideal. Namun bila lebih dari enam, kemungkinan ada indikasi daging itu semigelonggongan. Kami ada alat untuk mengukurnya,” ujar Hatta kepada wartawan di Kantor Disnakkan, Rabu (3/8/2011). Biasanya, Disnakkan diajak turut serta dalam operasi pasar bersama Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) ke sejumlah pasar. Namun ada atau tidak ada operasi pasar, Disnakkan akan menurunkan tim untuk memantau kondisi daging di pasar. Beberapa pasar yang menjadi target yakni Pasar Jungke, Karangpandan, Palur dan Nglano.

Menurut Hatta, pada tahun lalu di Pasar Karangpandan timnya menemukan daging sapi yang sudah busuk namun masih dijual. Karena itu, saat operasi itu, bukan hanya daging glonggongan yang menjadi perhatian, tapi juga daging sapi yang sudah membusuk dan bangkai ayam Tiren (mati kemarin).

“Untuk mengecek apakah daging sudah busuk atau tidak, kami menggunakan alat tes Duranti. Saat ditetesi Duranti warnanya jadi biru, maka dagingnya masih baik. Tapi bila berubah jadi hijau, artinya sudah busuk,” ujarnya. Namun pihaknya kesulitan untuk mengecek kondisi daging ayam. Sebab daging yang dijual di pasar saat ini banyak yang sudah dijual dalam kondisi sudah matang atau setidaknya sudah direbus.

Hatta menyatakan pula, daging gelonggongan di Karanganyar hampir tidak ada. Sebab sejak hewan dipotong di Rumah Pemotongan Hewan (RPH), sudah diawasi secara ketat baik siang maupun malam. Bila ditemukan daging gelonggongan, kemungkinan itu datang dari luar. Terlebih lagi, permintaan daging di Karanganyar masih sedikit bila dibandingkan dengan Kota Solo.

Sumber : http://www.solopos.com/2011/karanganya

Read More

Karanganyar lepas 13 atlet ke Asean Paragames

Karanganyar melepas 13 atlet andalannya ke ajang Asean Paragames 2011 yang akan digelar di Solo pada Desember mendatang.

Menurut Ketua National Paralympic Committee (PNC) Karanganyar, Nano Sumarno baru-baru ini ke-13 atlet asli Karanganyar itu akan berlaga di empat cabang olahraga, yakni atletik (3 orang), voli duduk (3 orang), bulutangkis (6 orang) dan catur (1 orang). Ia menambahkan secara simbolis, pelepasan atlit digelar di ruang Podang Gedung Setda Karanganyar, Selasa 28 juni 2010 pagi, oleh Bupati Karanganyar.

Asean Paragames akan diikuti oleh peserta penyandang cacat dari berbagai negara se-Asia Tenggara. Pihaknya berharap agar KONI dan Pemkab Karanganyar memperhatikan para atlit tersebut dengan memberikan tali asih. “Kami berharap bisa diberikan bonus maupun pekerjaan yang layak bagi para atlit, sesuai dengan latar belakang pendidikan masing-masing atlit,

Read More

Hitung potensi daging, ternak disensus

Guna mengetahui potensi daging di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) Karanganyar menggelar sensus pendataan sapi potong, sapi perah dan kerbau (PSSP) di seluruh wilayah Karanganyar, 1-30 Juni. Sasaran sensus tersebut yakni para pemelihara dan pedagang ketiga ternak tersebut.

“Indonesia ini sebenarnya bisa swasembada daging dari ketiga jenis ternak itu atau tidak, karena ketiga jenis ternak itu dianggap penyuplai daging. Untuk potensi kepemilikan daging, itu bisa dihitung. Tapi untuk stok daging tidak bisa dihitung dengan sensus ini,” ujar Kasi Produksi BPS Karanganyar, Purnomo Aji, saat ditemui wartawan di kantor BPS.
BPS sendiri, lanjut Purnomo, menghitung data populasi hewan ternak pada kondisi per 1 Juni. Sedangkan pada tanggal 2 Juni baru dilakukan sensus hewan ke beberapa desa di Karanganyar.

Kendala yang dihadapi petugas pencacah lapangan (PCL), yakni kadang ada pemelihara ternak baru yang belum dimasukkan ke data. Padahal menurut peraturan, data pemelihara maupun pedagang ternak sudah masuk pada 1 Juni.

Lebih lanjut Purnomo mengatakan, metode sensus hewan ternak ini sama dengan sensus penduduk. Yang membedakan hanya sasaran datanya, yakni jumlah ternak. Dalam sensus itu juga melibatkan RT, RW atau kelompok ternak di suatu desa tertentu. “Petugas sensus adalah aparat desa setempat yang sudah kita latih, petugas nanti tinggal meng-update ternak di suatu daerah, kepada RT, RW atau kelompok ternak.

Selain itu, BPS juga bekerja sama dengan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) sebagai pengawas. Di Karanganyar, ada 77 petugas operasional ( PO ) dari Disnakkan dan 363 orang PCL. Data yang didapat antara lain berupa jumlah, umur, jenis, asal dan mutasi hewan ternak. Sedangkan untuk kesehatan hewan, imbuh Purnomo, tidak dimasukkan dalam sensus tersebut. Pasalnya, data kualitatif tidak dimasukkan dalam sensus karena BPS sudah menerima hal apa saja yang ditanyakan, sesuai dari kebutuhan dari Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Nasional. “ Ada data tentang inseminasi buatan (IB) juga dimasukkan karena data itu dibutuhkan oleh Dirjen.

Read More

Karanganyar antisipasi antraks, ratusan sapi divaksinasi massal

Guna mencegah penyakit antraks yang telah menyerang sejumlah kecamatan di Kabupaten Sragen, sejumlah petugas dari Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar memberikan vaksin dan vitamin ke ratusan ternak di Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo.

VAKSINASI — Petugas melakukan vaksinasi terhadap ternak di wilayah Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, Senin (20/6). Wilayah ini berbatasan dengan wilayah Sragen yang mengalami sejumlah kasus antraks. Desa tersebut merupakan salah satu kawasan yang berbatasan dengan Sragen. Dikhawatirkan jika tidak divaksin, ternak di wilayah tersebut bisa tertular antraks. Menurut data dari Disnakkan Karanganyar, ada sekitar 350 sapi di desa tersebut. Sedangkan yang divaksinasi sekitar 60 persen dari populasi itu. Ada tiga pos pengumpulan ternak yang akan divaksin. “Terutama memang untuk mencegah antraks dan penyakit ternak yang dikeluhkan masyarakat,” ujar Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Disnakkan, Rusdjajanto, di pos vaksinasi ternak Dusun Suruhan, Desa Dayu.

Beberapa penyakit yang dikeluhkan masyarakat itu antara lain seperti koreng atau gudig, kekurangan nutrisi (malnutrisi), tidak nafsu makan, cacingan dan permasalahan reproduksi.
Beberapa bulan sebelumnya, sejumlah ternak di Desa Krendowahono, Wanasari, Kragan dan Tuban sudah divaksinasi. Minimal untuk vaksinasi ternak diberikan enam bulan sekali. Selain itu, lanjut Rusdjajanto, pihaknya juga menyemprot disinfektan ke sejumlah kandang hewan ternak ke sejumlah daerah tersebut.

Untuk ternak yang kurang sehat diberi vaksin. Ternak yang hamil hanya diberi vitamin dan ternak yang terkena koreng disemprot antibiotik. “Itu diperlukan agar sakitnya tidak terlalu parah dan mengusir lalat yang hinggap di luka,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Disnakkan Karanganyar, Muhammad Hatta, dalam vaksinasi tersebut menekankan agar para peternak selektif memberikan pakan ternaknya. Biasanya, kata dia, peternak memberikan pakan jerami kepada ternak. Namun para peternak banyak yang tidak memperhatikan bahwa jerami tersebut ada yang mengandung insektisida yang diseprotkan petani saat membasmi wereng. “Sapi bisa keracunan insektisida dan bisa mati mendadak.

Salah satu peternak di Dusun Suruhan, Narto, mengaku banyak sapi yang cacingan dan korengan. Bahkan ada juga sapi salah satu warga yang mati karena sebelumnya sakit. “Kalau untuk sapi betina ada juga yang tidak bisa bunting. Padahal sudah saatnya untuk bunting

Read More

Karanganyar waspadai penyebaran tiga penyakit zoonosis

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran tiga jenis penyakit zoonosis di daerah perbatasan.

(more…)

Read More

Usia perokok makin muda, Raperda kawasan bebas roko disiapkan

Kategori perokok di Karanganyar makin muda. Bahkan siswa SD pun kini makin banyak yang melakukannya.

Karena itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar siap mengajukan ulang rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang Pengaturan Kawasan Tanpa Asap Rokok atau Bebas Rokok ke DPRD setelah ditolak tahun 2009 silam. Dalam peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, di rumah dinas Bupati, Selasa (31/5/2011), Bupati Rina Iriani mengatakan tidak akan patah semangat untuk kembali mengajukan Raperda tentang Pengaturan Kawasan Tanpa Asap Rokok atau Bebas Rokok ke DPRD.

Menurutnya, produk hukum yang akan diajukan ke DPRD bukanlah larangan merokok. Namun, Bupati menegaskan Raperda tersebut mengatur lokasi bebas asap rokok seperti rumah sakit, instansi pemerintah, terminal, sekolah, halte dan lain sebagainya.
“Jadi bukan melarang merokok. Tapi itu Perda yang akan mengatur kawasan mana yang bebas rokok,” ujarnya.

Bupati mengatakan aturan yang mengatur tentang kawasan bebas asap rokok mendesak untuk segera direalisasikan. Terlebih lagi jika ditilik dari manfaat yang ada, dia mengatakan bahaya rokok terhadap kesehatan sangat serius. Tidak hanya bagi perokok aktif namun juga perokok pasif.

“Yang menghirup tapi tidak merokok itu malah bahaya. Tahu-tahu kondisi parunya sudah kotor, padahal dia tidak merokok,” tuturnya.
Selama ini, pihaknya hanya mengandalkan Peraturan Bupati (Perbup) No 91/2009 tentang Kawasan Tanpa Asap Rokok dan Kawasan Terbatas Merokok serta Instruksi bupati No 3/2009. Menurutnya, diperlukan produk hukum yang lebih mengikat dan kuat seperti Perda. “Di beberapa instansi pemerintahan sudah kami sediakan tempat khusus merokok. Jadi tidak sembarangan lagi merokok di sana-sini.

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Karanganyar mencatat berdasarkan hasil survei 2009, angka perokok usia di bawah 14 tahun di Karanganyar mencapai 25,5%. Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Karanganyar Fatkul Munir mengatakan tren jumlah perokok dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan tajam. Bahkan kini, rokok mulai merambah anak SD.

“Di jalan-jalan saya pernah melihat. Anak SD ada yang sudah merokok. Trennya dari segi usia memang perokok makin muda dan di desa-desa lebih banyak dari pada di kota,” ujarnya.
Dia mengatakan untuk menekan perokok di tingkat sekolah pihaknya terus melakukan penyuluhan ke sekolah-sekolah. Penyuluhan bahaya rokok diharapkan mampu menekan angka perokok di kalangan pelajar. “Sampai sekarang kami terus lakukan penyuluhan bahaya rokok ke sekolah-sekolah.

Read More

Persinas ASAD gelar Kejurkab

Perguruan Pencak Silat Nasional Ampuh, Sehat dan Damai (Persinas ASAD) menggelar kejuaraan pencak silat tingkat SD, SMP dan SMA se-Kabupaten Karanganyar (Kejurkab) di Gedung Olharaga KPRI Cangakan, Minggu (29/5/2011). Kejuaraan tersebut diikuti oleh 170 peserta antarranting di Karanganyar.

Ketua KONI Kabupaten Karanganyar, Jatmiko mengatakan dengan diadakannya kejuaraan pencak silat itu, diharapkan bisa menggalang kerukunan, keharmonisan dan sportivitas atlet dalam pertandingan, sehingga selain bisa menciptakan kesehatan, juga memunculkan rasa keamanan dan kedamaian.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menjaring atlet-atlet berbakat di bela diri pencak silat dan untuk meningkatkan prestasi atlet

Read More

Dampak antraks, pedagang hindari daging asal Sragen

Pedagang daging sapi di Bumi Intanpari mulai waswas dan memilih tidak membeli hewan ternak sembelihan dari Sragen. Hal ini lantaran munculnya kasus positif antraks pada sejumlah ternak sapi di Sragen. Sejumlah pedagang daging sapi di Pasar Jungke, Karanganyar, yang ditemui Espos, Minggu (22/5), mengaku enggan membeli daging sapi asal Sragen. Mereka khawatir daging sapi tersebut terjangkit antraks yang kini mulai menyebar di sejumlah wilayah di Sragen. “Saya ambil daging langsung dari tempat pemotongan hewan di Solo. Dan itu barangnya bukan dari Sragen ataupun Boyolali. Sri Rejeki mengatakan bersama pedagang daging sapi lainnya khawatir jika harus membeli hewan ternak sembelihan dari Sragen ataupun Boyolali. Dari segi kualitas daging pun, dia menuturkan daging yang berasal dari Sragen maupun Boyolali kurang baik. Daging sapi dari kedua wilayah itu biasanya basah atau tidak kering, tak seperti daging sapi dari Solo. “Harganya juga beda, kalau yang kualitasnya baik per kilogram Rp 60.000. Tapi, yang kurang bagus seperti dari Sragen atau Boyolali hanya Rp 55.000 per kilogram. Jaminan menuturkan senada disampaikan pedagang daging sapi lainnya Yamti, 55. Dia selama ini membeli daging sapi dari tempat pemotongan hewan di wilayah Karanganyar. Pihaknya menjamin daging yang dijualnya bebas dari berbagai penyakit seperti antraks lantaran mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Hingga kini, kasus antraks di Sragen dan beberapa lama lalu di Boyolali, tidak berpengaruh terhadap penjualan daging. “Tidak ada penurunan pembeli. Jadi memang tidak ada pengaruhnya karena daging yang kami jual tidak berasal dari sana (Sragen atau Boyolali-red) tapi dari Karanganyar sendiri. Dagingnya pun yang mengantongi SKKH,” ujarnya. Pedagang daging lain, Suprapti, 38, mengatakan semakin selektif dalam memilih daging. Daging-daging tersebut dilihat surat keterangan kesehatan hewannya apakah daging tersebut sehat atau memiliki riwayat sakit. Dengan demikian, dia mengatakan daging yang dijual di pasar merupakan daging berkualitas dan bebas terjangkit penyakit menular. “Kan bisa tahu kalau kondisi dagingnya jelek atau tidak. Jadi saat ambil daging di RPH (Rumah Pemotongan Hewan) dilihat hewannya sakit atau tidak. Biasanya yang masuk RPH, hewannya sehat-sehat,” katanya. Sebelumnya, Dinas Perternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar melakukan vaksinasi terhadap ratusan sapi dan kambing di Gondangrejo yang merupakan daerah perbatasan Sragen dan Boyolali. Vaksinasi dilakukan untuk mengantisipasi penularan antraks.

Read More