Category: Kesehatan & Olahraga

Olah Bekatul Menjadi Obat Berbagai Penyakit

Hasil penggilingan padi atau yang biasa dikenal dengan nama bekatul ternyata mempunyai banyak khasiat lebih, tidak hanya sebatas untuk pakan ternak. Di tangan pasangan Hadi Suwarso (64) – Panti (51), warga Plosorejo RT 02 RW II Desa Ploso Tengah, Kecamatan Matesih Karanganyar, ampas penggilingan padi yang biasanya hanya digunakan untuk pakan ternak ternyata bisa diracik menjadi sebuah minuman kesehatan yang bisa mengobati berbagai jenis penyakit.

Pasalnya dengan beberapa campuran bahan organik lainnya, ampas beras tersebut bisa dibuat menjadi sebuah minuman kesehatan yang bermanfaat dan berkhasiat mengobati beberapa penyakit, mulai dari diabetes atau penyakit gula, kolesterol, asma, osteoporosis hingga jantung koroner yang menghantui warga masyarakat dan penyakit lainnya.

Dengan keuletannya, kedua pasangan ini berhasil meracik sebuah minuman dari bekatul jenis beras merah. Bahkan saat ini olahannya sudah mulai dipasarkan ke beberapa daerah, seperti Semarang, Yogyakarta, Purwokerto, bahkan mencapai Bali dan Lombok.

Beras merah yang mereka pakai adalah jenis beras merah unggulan dan sifatnya organik yang tidak memakai bahan berbahaya saat menanam beras tersebut. Awal mulanya, Ibu Panti (51) dan suaminya fokus dalam usaha penggilingan padi dan menyetorkan beras putih biasa di beberapa pasar di Surakarta. Namun karena ada permintaan akan beras lainnya dirinya pun mencoba terjun untuk memasarkan beberapa jenis beras lainnya seperti beras merah, beras hitam, pandan wangi dan beras lainnya.

Hingga suatu saat, ada permintaan dari seorang dokter di Semarang guna mengolah bekatul atau ampas dari kulit ari beras merah menjadi sebuah minuman yang akan diberikan kepada pasiennya sebagai vitamin tambahan. Faktanya dengan meminum ramuan bekatul tersebut banyak pasien tersebut yang mengaku sembuh dari penyakitnya. “Pertamanya ada yang mengaku sembuh dari beri-beri setelah meminum racikan bekatul tersebut secara rutin selama beberapa hari,” ucapnya saat ditemui Joglosemar, Minggu (19/2).

Karena sang dokter terus memesan, ia mulai serius menggarap permintaan tersebut dan ditambahkan dengan petunjuk dokter dengan menambahkan beberapa rempah-rempah yang bersifat organik agar dapat mengobati penyakit lainnya juga. “Alhamdulillah sekarang sudah banyak orang yang mengonsumsi karena memang terbukti bisa mengobati berbagai ragam penyakit,” jelas dia. Saat ini bekatul merah tersebut sudah diproduksi secara massa dan diberi nama Red Bran.

Read More

Stok Darah PMI Aman

Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Karanganyar memastikan  ketersediaan darah di wilayahnya masih mencukupi hingga beberapa bulan mendatang. Sementara untuk mengantisipasi terjadinya kekurangan stok darah, PMI menggunakan manajemen stok.
“Saat ini per bulannya PMI Cabang Karanganyar mendapatkan sekitar 600 kantong darah, semantara kebutuhan Karanganyar yang hanya berkisar antara 300-500 kantong darah per bulan. Jadi untuk stok darah saat ini masih aman,” ujar Yaqub Iskandar, Direktur Unit Donor Darah (UDD) PMI Karanganyar, Sabtu (28/1) kemarin.
Ia mengatakan berlimpahnya stok darah di Karanganyar tak lepas dari kesadaran masyarakat untuk giat mengadakan kegiatan donor darah baik melalui instansi ataupun perorangan.
Ia mengatakan memasuki musim penghujan ini, biasanya akan rentan dengan penyakit Demam Berdarah (DB). Namun Yaqub mengatakan untuk saat ini belum ada permintaan darah untuk kasus deman berdarah. “Biasanya yang paling banyak jika sudah ada penderita DB. Kita sering kewalahan jika mulai ada serangan DB,” tambahnya.
Selain memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri, stok darah PMI Karanganyar juga lebih sering diminta oleh daerah lain seperti Kota Surakarta.
Dan untuk menjamin ketersediaan darah, pihaknya saat ini membuat manajemen stok dengan cara sebisa mungkin darah yang keluar dan darah yang masuk dibuat sama, sehingga tidak terjadi kekosongan pasokan. ”Jadi tidak hanya mengandalkan adanya darah pengganti saja. Ini juga mengantisipasi  umur darah yang hanya 35 hari” tandasnya.

Read More

Sambut ASEAN Para Games, Pedagang Pasar Jumat Diminta Libur

Pedagang Pasar Jumat siap-siap gigit jari akibat GOR Nyi Karang digunakan untuk pelaksanaan ASEAN Para Games (APG) VI/2011. Pasalnya di depan arena GOR yang biasanya digunakan ratusan pedagang Pasar Jumat tersebut akan ditutup dan disterilkan dari pedagang.

Panitia Pelaksana (Panpel) APG wilayah Karanganyar, Offi menegaskan khusus cabang olahraga Goal Ball ini dibutuhkan suasana lapangan yang tenang dan jauh dari kebisingan. Pasalnya dalam memainkan cabang olahraga para atlet tunanetra tersebut  membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi. “Jadi besok, penonton tidak boleh mengeluarkan suara. Semakin sedikit penonton semakin baik,” ujarnya saat ditemui wartawan di sela-sela pengecekan lokasi pertandingan, Selasa (13/12).

Bahkan untuk menjaga suasana di luar Lapangan, pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat Kepolisian Polres Karanganyar untuk menutup Jalan Lawu di seputaran GOR selama kurun waktu dua jam. Perkiraan tersebut menurutnya sudah disesuaikan dengan masa waktu pertandingan Goal Ball selama 2 X 12 menit.

Dirinya pun meminta kepada penonton untuk memaklumi kondisi tersebut, karena atlet tunanetra yang akan bertanding baik membutuhkan konsentrasi yang tinggi guna melakukan permainan Goal Ball tersebut. “Karena matanya ditutup semua, jadi butuh konsentrasi tinggi,” jelas dia.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Karanganyar, Rina Iriani meminta kepada seluruh Pedagang Pasar Jumat untuk libur sementara waktu. Dan dalam sosialisasi sebelumnya sebenarnya diakui dia hanya pedagang yang di depan GOR saja yang diminta libur.“Tapi daripada nanti ada yang cemburu, maka kita liburkan saja semua,” kata dia.

Read More

Balai tanaman obat Tawangmangu akan kembangkan jamu antiobesitas

Gedung BPPTOOT di Tawangmangu, Karanganyar. Di lokasi ini para peneliti telah berhasil mengembangkan aneka obat berbasis jamu untuk masalah-masalah kesehatan serius. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (BPPTOOT) Tawangmangu akan mengembangkan obat antiobesitas atau kegemukan dengan bahan tanaman jamu.

BPPTOOT juga akan mengembangkan obat tradisional untuk mengobati penyakit sendi, wasir, pelancar asi dan ramuan untuk menjaga daya tahan tubuh.

Sebelumnya, BPPTOOT Tawangmangu sudah mengembangkan empat jenis ramuan jamu untuk mengatasi penyakit diabetes melitus, hipertensi, asam urat dan kolesterol. “Jamu-jamu yang diteliti di sini telah tersaintifikasi dan dibuktikan secara ilmiah bisa menyembuhkan penyakit tersebut,” ujar Kepala Balitbangkes Dr dr Trihono MSc, saat ditemui disela-sela Dialog Nasional Kemandirian Bahan Baku Jamu dan Obat, didampingi Kepala BPPTOOT, Indah Yuning Prapti, Jumat (9/12/2011).

Menurut Trihono, kelima ramuan jamu yang akan dikembangkan pada tahun depan itu sudah mendapatkan ijin dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Apalagi, sejumlah dokter di Tanah Air juga sudah menggunakan obat-obatan tredisional seperti itu dalam pengobatan modern. Terlebih lagi saat ini Kemenkes sedang gencar-gencarnya mengampanyekan konsumsi jamu di kalangan masyarakat. “Diharapkan jamu ini bisa menjadi brand Indonesia di mata dunia medis internasional,” katanya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, sebetulnya sumber daya alam berupa tanaman obat di Indonesia jumlahnya cukup melimpah. Beberapa ramuan tradisional yang lain juga banyak yang masih bisa dikembangkan. Sayangnya dari berbagai tanaman obat yang ada itu, tidak semuanya bisa tersaintifikasi atau diteliti secara ilmiah. Perlu ada kajian lebih lanjut terkait dengan jenis tanaman, kandungannya hingga daerah perkembangbiakannya.

“Kalau jamu ini sudah menjadi bagian dalam sistem pengobatan di Indonesia, maka bisa menghemat anggaran di bidang kesehatan, terutama dalam hal ini adalah anggaran pemerintah untuk penyediaan obat penyakit,” ungkapnya. Ia menyontohkan, untuk mengobati penyakit hipertensi dengan obat modern, biasanya memakan Rp 300.000 setiap bulan. Tapi bila banyak dari masyarakat yang mengonsumsi jamu, maka biaya tersebut bisa ditekan, sehingga anggaran bisa efisien.

Sementara itu, Indah Yuning Prapti, menjelaskan bahwa di BPPTOOT Tawangmangu ada ribuan tanaman obat . Dalam pertemuan kerja sama antara China dengan negara-negara ASEAN beberapa waktu lalu, disepakati bahwa Indonesia bisa menjadi harapan dan garda terdepan dalam persaingan dunia kesehatan, berhadapan dengan China. “Indonesia harus percaya diri karena sumber daya hayati yang kita miliki ini masih berlimpah,” pungkas Indah.

Read More

Karanganyar Harus Segera Operasi Bibir Sumbing

Gubernur Jawa Tengah, Rutriningsih berharap Kabupaten Karanganyar mempercepat program bebas bibir sumbing yang ditargetkan rampung pada tahun 2013 depan.

“Kalau masih ada bibir sumbing, berarti masih ada kasus gizi buruk di Karanganyar, hal ini tidak boleh dibiarkan,” ujarnya seusai memantau pelaksanaan operasi bibir sumbing dan langit-langit gratis yang diadakan di Rumah Sakit Umum Daerah di Karanganyar, Sabtu kemarin (26/11). Menurutnya, percepatan kasus bibir sumbing tersebut harus dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan diri seseorang. Ia mengatakan kelainan bibir sumbing dan langit-langit terjadi karena beberapa faktor yakni adanya faktor gizi buruk, kekurangan mineral) dan pernikahan sedarah atau incest. “Tapi yang paling dominan yakni karena asupan gizi saat di dalam kandungan masih kurang,” jelas dia.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja,dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Karanganyar, Sumarno menambahkan total di Kabupaten Karanganyar ada sekitar 66 penderita kelainan bibir sumbing dan langit-langit yang tersebar di 17 Kecamatan. “Hingga Minggu (27/11) kita targetkan mengoperasi 28 pasien, lima untuk operasi langit-langit dan 23 lainnya operasi bibir sumbing,” .

Dirinya menegaskan, sesuai program kerja Pemkab Karanganyar tahun 2013 nanti tidak ada lagi warga di Karanganyar yang menderita bibir sumbing. Hal ini tentunya membutuhkan kerja keras karena mereka harus mulai mengajari masyarakat mengenai asupan gizi.

Pelaksaan operasi tersebut terjalin atas kerja sama dari berbagai pihak yakni antar Pemkab Karanganyar, RSUD Karanganyar serta Yayasan Permata Sari dari Semarang.

Read More

Tren Tolak Imunisasi Meningkat

Tren penolakan masyarakat terhadap imunisasi kian meningkat dari tahun ke tahun. Untuk tahun ini, penolakan telah membuat target program imunisasi polio dan campak Kabupaten Karanganyar tak tercapai.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar, Cucuk Heru Kusumo menyatakan realisasi capaian imunisasi di Karanganyar hanya mencapai sekitar 90 persen, dengan rincian imunisasi polio 98, 5 persen dan campak 98, 3 persen. “Totalnya ada 123. 704 balita yang menjadi sasaran imunisasi, dan belum semuanya diimunisasi,” ujarnya.

Kendala belum terselesaikan program imunisasi untuk polio dan campak, menurut dia karena masih adanya sikap penolakan yang ditunjukkan orangtua balita atau anak yang menjadi sasaran imunisasi. “Kita sudah lakukan pendekatan dengan berbagai cara, namun tampaknya masih banyak orangtua yang menolak,” jelas dia.

Alasan penolakan, sambung Cucuk tidak diketahui alasan detailnya. Hanya saja pada tahun sebelumnya, kasus penolakan juga terjadi dengan alasan tak sejalan dengan keyakinan yang mengharamkan masuknya zat imunisasi.

Tren penolakan melakukan imunisasi tersebut, lanjutnya semakin meningkat seiring dengan berlalunya era reformasi, yakni mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tetapi alasan penolakan di tahun 2011 inilah yang terkesan mengada-ada. Fenomena penolakan pemberian imunisasi, kata Cucuk tidak hanya terjadi di Karanganyar tetapi menyeluruh juga terjadi di berbagai kabupaten lainnya.

Lebih lanjut, guna menggenjot angka imunisasi tersebut, pihaknya telah melakukan beberapa upaya yakni dengan sistem sweeping mendatangi rumah warga yang enggan dilakukan imunisasi. “Kadang saat petugas datang, tuan rumah enggan membukakan pintunya, banyak juga yang bilang bayinya sehat jadi tidak perlu imunisasi,” jelasnya.

Read More

Kebersihan MCK Dilombakan

Salah satu lomba cukup unik yang muncul dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Karanganyar adalah lomba kebersihan tempat Mandi Cuci Kakus (MCK). Lomba kebersihan kamar mandi tersebut digelar serentak mulai dari tingkat RT, Desa, Kecamatan hingga menyentuh semua Kantor Instansi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Bupati Karanganyar, Rina Iriani mengungkapkan tujuan pengadaan lomba MCK tersebut yakni untuk meningkatkan pelayanan dengan fasilitas MCK yang bersih, dan sekaligus sebagai cermin menjadikan masyarakat untuk mendekati pola hidup sehat. “Lomba ini punya filosofi tinggi yakni jika di depan kantor itu bersih, maka yang di belakang juga harus bersih,” ujarnya seusai melakukan upacara Hari Jadi Kabupaten Karanganyar di alun-alun Karanganyar, Jumat (18/11).
Mengenai penilaian lomba tersebut, jelasnya, telah dimulai sejak beberapa pekan lalu dengan melibatkan banyak unsur di dalamnya. Piagam penghargaan lomba tersebut akan segera diberikan dan untuk pemenang lomba MCK terburuk nantinya akan diberikan pembinaan tambahan. “Yang paling bersih itu Dinas Pendidikan, sementara untuk yang terjorok nanti, setelah upacara ini baru akan dilaporkan kepada saya,” imbuh dia.

Read More

Musim hujan, waspadai flu burung

Pemilik peternakan unggas diminta untuk memperhatikan kesehatan unggasnya selama musim hujan ini. pasalnya, saat hujan, biasanya dibarengi dengan peningkatan kasus penyakit hewan unggas. Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) pun mengantisipasi agar kasus fu burung atau avian influenza, tidak bekembang lagi.

Kepala Disnakkan Karanganyar, Muhammad Hatta mengatakan, biasa penyakit yang disebabkan dan dibawa oleh virus H5N1 ini semakin kian berkembang dan tidak akan mati. Palagi jika kondisi cuaca sangat mendukung, seperti belakangan ini.

“Perubahan musim dari panas ke hujan secara tiba-tiba ini harus diwaspadai. Memang saat ini belum ada kasus yang dilaporkan terkait dengan unggas yang mati. Tapi sebagai langkah antisipasi, warga maupun pemilik ternak harus memperhatikan ternak yang dipeliharanya,” ujar Hatta, Sabtu (5/11/2011).

Yang perlu dikhawatikan, kata dia, yakni mewabahnya virus flu burung yang semula hanya terjadi pada binatang unggas, lalu beralih juga menyerang ke manusia. Menurut catatannya, selama kurun waktu antara 2004-2007 kasus penyakit hewan unggas mengalami penurunan. Tahun-tahun setelah itu juga dilaporkan ada kasus serupa, namun masih bisa dikendalikan.

Kendati demikian, sebagai langkah kehati-hatian, ia meminta kepada warga untuk segera melaporkan ke Disnakkan bila ada unggas yang mati mendadak tanpa sebab.

Read More

Petugas temukan hewan kurban belekan

Petugas Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Karanganyar tengah memeriksa salah satu ternak beberapa waktu lalu. Pemeriksaan kesehatan ternak kini makin digiatkan mendekati Hari Raya Idul Adha.
Dari pemeriksaan tersebut, petugas antara lain menemukan sejumlah ternak kambing yang matanya mengalami belekan. Agar tidak menimbulkan iritasi yang semakin parah, petugas mengoleskan salep mata pada setiap kambing yang mengalami sakit mata. “Yang sakit secara spesifik dan berbahaya memang tidak ada. Kebanyakan memang sakit mata kuning dan kondisi badan ternak yang masih kurus-kurus karena kekurangan vitamin,” ujar petugas Kesehatan Hewan Disnakkan Karanganyar, Jaka Mulyono, saat ditemui wartawan di Pasar Ternak Desa Tuban, Gondangrejo.

Petugas, kata dia, hanya bisa menyarankan kepada warga yang menjual kambing ternak itu untuk memberikan rerumputan yang baik. Hewan ternak bisa kehilangan nafsu makan karena stres berada di tempat yang baru. Apalagi, imbuhnya, ternak yang di jual di sana bukan berasal dari Gondangrejo saja, tapi ada yang dari Solo dan Boyolali. Rata-rata kambing tersebut tiba di sana sekitar empat hari yang lalu.

Sementara itu, salah satu pedagang kambing di Desa Tuban, Ahmadi, 53, mengaku kambingnya baru terjual 15 ekor sejak dua pekan yang lalu. Selama berjualan, ia hanya memberikan pakan rumput untuk puluhan wedhus gembel yang dijual, tanpa memberikan vitamin. “Kalau ada yang terkena belek ya saya kasih salep. Vitamin tidak pernah saya beri dan hanya njagani dari dinas yang memberi vitamin,” kata Ahmadi.

Sebelum masa Idul Adha, ia biasanya menjual kambingnya seharga Rp 700.000 per ekor. Menjelang Hari Raya Kurban, ia menaikkan harga menjadi Rp 850.000. Hal itu wajar ia lakukan karena hampir semua pedagang di pasar tersebut juga menaikkan harganya. Bahkan untuk kambing yang cukup besar, harganya bisa mencapai Rp 1 juta per ekor. “Untuk saat ini masih tidak terlalu banyak yang membeli. Biasanya Jumat sampai Sabtu ramai. Setelah Hari Raya juga ada yang masih membeli,” katanya.

Read More

Jelang Idul Adha, lalu lintas hewan diawasi

Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Karanganyar akan menerjunkan tim untuk memantau lalu lintas hewan ternak kurban menjelang Idul Adha. Tim tersebut antara lain bertugas untuk memeriksa kesehatan ternak yang biasa dijual di pinggir-pinggir jalan. Pemantauan itu bertujuan untuk memastikan hewan ternak dalam kondisi sehat dan tidak cacat, sebelum berada di tangan pembeli.

Kepala Disnakkan Karanganyar, Muhammad Hatta mengatakan, pemantauan antara lain digelar selama enam hari berturut-turut sejak Rabu (26/10)-Kamis (3/11). Beberapa wilayah yang akan disisir yakni sejumlah titik di Kecamatan Colomadu, Jaten, Tasikmadu, Kebakkramat dan Gondangrejo.

“Jangan sampai masuk ternak yang tidak sehat dan terkandung penyakit menular. Yang lebih penting lagi kita waspadai penyakit antraks yang disebabkan karena zoonosis,” ujar Hatta saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (24/10) siang.

Pemantauan juga dilakukan di pasar hewan yang berada di Pasar Karangpandan setiap Wage dan Pasar Tegalgede setiap Pahing. Saat ini, kata Hatta, sudah ada peningkatan jumlah ternak di Karanganyar. Karena itu, tugas dari tim yakni memastikan kondisi hewan kurban itu sehat, sebelum dikonsumsi. “Satu tim terdapat satu dokter hewan,” katanya.

Read More